Berita dan Informasi Luwu
Berita  

Sulawesi Selatan Masuk Dalam Daftar Prioritas Penanganan TBC, Kementerian Kesehatan Siapkan Intervensi Konkret

Sulawesi Selatan Masuk Dalam Daftar Prioritas Penanganan TBC, Kementerian Kesehatan Siapkan Intervensi Konkret
Wakil Menteri Kesehatan Republik Indonesia Benyamin Paulus Octavianus, (Dok: KabarMakassar).

KabarLuwu.com — Wakil Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Benyamin Paulus Octavianus, menegaskan bahwa Sulawesi Selatan (Sulsel) telah masuk dalam daftar delapan provinsi prioritas nasional dalam penanganan Tuberkulosis (TBC). Penetapan ini didasarkan pada tingginya jumlah kasus TBC di wilayah tersebut, yang menjadi dasar penguatan intervensi pemerintah pusat, khususnya di Kota Makassar.

Dalam kunjungannya ke Puskesmas Ballaparang, Selasa (13/01), Benyamin mengungkapkan, “Saat ini ada delapan provinsi dengan kasus TBC tertinggi, yaitu Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Banten, DKI Jakarta, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Timur, dan Sumatera Utara. Semua provinsi ini mendapatkan penanganan, namun delapan provinsi ini menjadi prioritas.”

Sebagai bagian dari intervensi konkret, Kementerian Kesehatan menyiapkan 20 unit alat rontgen portabel untuk Kota Makassar. Alat ini dirancang untuk mempercepat deteksi dini TBC hingga ke tingkat kelurahan dan rumah warga. “Setiap alat rontgen dapat melayani sekitar 3.000 pasien. Dengan perhitungan ini, kami memperkirakan sekitar 60.000 warga Makassar akan diperiksa sepanjang tahun 2026,” jelas Benyamin.

Kunjungan Benyamin ke Sulsel juga merupakan bagian dari pelaksanaan program hasil terbaik cepat (quick wins) pemerintah, yang salah satu fokus utamanya adalah pemberantasan TBC secara nasional. Di Makassar, ia meninjau langsung penerapan inovasi layanan di Puskesmas Ballaparang. “Kami datang untuk melihat apa yang sudah dikerjakan. Ternyata di sini ada kelebihan, inovasinya mendatangi rumah warga untuk meningkatkan active case finding. Pendekatannya jelas, TOSS TB Temukan, Obati, Sampai Sembuh,” tambahnya.

Rontgen portabel yang akan disalurkan memiliki bobot ringan, sekitar tiga kilogram, sehingga dapat digunakan secara fleksibel. “Alat ini bisa dibawa ke kelurahan, ke rumah warga, bahkan digunakan di kantor kelurahan. Ini mempermudah diagnosis,” ujarnya.

Berdasarkan data 2025, Kota Makassar dengan jumlah penduduk sekitar 1,4 juta jiwa mencatat 9.885 kasus TBC yang telah diobati. Dari angka tersebut, pemerintah akan melakukan penelusuran kontak erat terhadap seluruh anggota keluarga pasien. “Kalau ada hampir 9.800 kasus, berarti ada ribuan rumah yang harus dikunjungi. Semua anggota keluarga akan diperiksa gratis, tidak hanya untuk TBC, tetapi juga akan dilakukan pemeriksaan gula darah, tekanan darah, dan rontgen,” tegas Benyamin.

Ia menambahkan, penelusuran menyeluruh menjadi kunci karena TBC adalah penyakit menular. Dampak dari intervensi nasional ini diharapkan mulai terlihat setelah tiga tahun pelaksanaan. “Harapannya, pada 2027-2028 angka TBC di Makassar dan Sulsel sudah mulai turun, karena efek dari program baru akan terlihat setelah dijalankan secara konsisten,” ujarnya.

Benyamin juga menegaskan bahwa strategi jemput bola yang dilakukan puskesmas bersama pemerintah daerah dan kader TBC akan menjadi rujukan nasional. “Apa yang bagus di daerah akan kita dorong menjadi bagian dari program nasional,” pungkas Benyamin.

Exit mobile version