KabarLuwu — Pemerintah Kabupaten Luwu menggelar Gerakan Pangan Murah (GPM) sebagai langkah strategis untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan sekaligus mengendalikan inflasi. Kegiatan ini dilaksanakan serentak oleh Dinas Ketahanan Pangan di 24 kabupaten/kota se-Sulawesi Selatan dengan dukungan Bank Indonesia.
Dalam sambutannya, Bupati Luwu H. Patahudding mengungkapkan bahwa beberapa bulan lalu Luwu sempat mencatat inflasi tertinggi kedua di Sulsel. Kondisi ini mendorong pemerintah daerah mengambil langkah konkret, salah satunya dengan pelaksanaan GPM.
“Alhamdulillah, berkat kolaborasi Pemkab Luwu dengan TNI-Polri dan forkopimda lainnya, laju inflasi berhasil dikendalikan. Luwu kini masuk empat wilayah teratas di Sulsel yang mampu menekan inflasi,” ujarnya.
Bupati juga memberikan apresiasi kepada TNI-Polri yang ikut membantu penyaluran beras SPHP dari Bulog. Ia berharap kegiatan GPM dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan menjadi solusi jangka panjang menuju ketahanan pangan.
Selain itu, Patahudding mengimbau petani agar menyisihkan minimal 10 persen gabah hasil panen untuk cadangan pribadi. Hal ini penting agar petani tidak terlalu bergantung pada pasar saat harga beras melonjak.
Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan Luwu, Makkawaru, menyampaikan bahwa intervensi pemerintah telah membawa dampak positif. Harga beras yang sebelumnya melonjak kini sudah mulai kembali normal.
Dalam kegiatan GPM, berbagai bahan pokok dijual dengan harga terjangkau, antara lain:
-
Beras SPHP Rp60.000/5 kg
-
Bawang Merah Rp35.000/kg
-
Bawang Putih Rp32.000/kg
-
Minyak Kita Jerigen Rp90.000/5 liter
-
Minyak Kita Bantal Rp15.500/liter
-
Gula Pasir Rp17.000/kg
-
Tepung Terigu Rp10.000/kg
-
Telur Ayam Ras Rp54.000/rak
Dengan hadirnya GPM, Pemkab Luwu optimistis inflasi daerah dapat terus ditekan, stabilitas pangan terjaga, dan masyarakat memperoleh akses harga bahan pokok yang lebih terjangkau.












